Tuesday, October 31, 2023

Review Film Drama The Call of The Wild Kisah Nyata Alam Liar Kanada !

The Call Of The Wild film drama diangkat dari kisah nyata karya Jack London yang dengan di bintangi oleh Harrison Ford, Omar Sy, dan Cara Gee berkisahkan tentang petualangan anjing rumahan bernama Buck temani tuannya mencari emas.

Anjing pemberani Buck telah memasuki dunia hiburan sejak dulu sebagai karakter utama dalam novel Jack London, "The Call of The Wild". 

The Call Of The Wild Pemeran Utama Harrison Ford Dengan Anjing Rumahan Berpetualangan

Tanggal/Tahun Rilis:  21 Februari 2020

Genre:  Petualangan, Drama

Produksi: 20th Century Studios, TSG Entertainment, 3 Arts Entertainment

Sutradara: Chris Sanders

Pemeran: Harrison Ford, Omar Sy, Cara Gee, Dan Stevens.

Meskipun tidak setenar beberapa bintang anjing terkenal seperti Lassie atau Hachiko, ketenaran Buck semakin meroket berkat adaptasi-adaptasi film yang telah dibuat dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam adaptasi terbaru, Buck beraksi di layar lebar dalam film "The Call of The Wild", dan segera menarik perhatian para penonton. 

Dengan pesonanya yang khas, karakter Buck memiliki daya tariknya sendiri, mengingatkan kita pada kisah - kisah petualangan yang melibatkan anjing-anjing pemberani di layar lebar. 

The Call Of The Wild Kisah Petualangan Anjing Rumahan Temani Harrison Ford Cari Emas

Meskipun belum mencapai ketenaran yang setara dengan bintang anjing klasik, Buck dan kisahnya menjadi salah satu karakter anjing yang patut diperhitungkan di dunia perfilman Hollywood saat ini. 

Bagaimanapun, film-film ini menghadirkan kisah petualangan yang memikat, dengan Buck memimpin penonton ke alam liar yang mengagumkan dan penuh tantangan. 

Dengan adaptasi terbarunya, karakter Buck akan terus menjadi ikon dalam dunia perfilman. Ketangguhan dan kegigihan juga kesetiaan sangat terlihat jelas diperlihatkan Buck.

The Call Of The Wild Film Drama Dari Kisah Nyata Karya Jack London

Bergantinya nama studio menjadi "20th Century Studios" merupakan langkah penting setelah Disney mengambil alih 20th Century Fox. 

Ini adalah salah satu perubahan terbesar dalam sejarah perfilman Hollywood, meskipun sering kali menjadi pembicaraan seputar perubahan tersebut. 

Meskipun demikian, film "The Call of The Wild" menandai salah satu titik awal dari era baru ini, menunjukkan bahwa studio ini tetap memiliki potensi besar dalam menghasilkan film-film yang menarik dan menghibur. 

Dalam hal ini, film ini menggambarkan bagaimana sebuah kisah bersejarah dapat kembali hidup dalam format yang segar, sehingga patut dicontoh oleh film-film lain yang akan datang di bawah bendera "20th Century Studios.

The Call Of The Wild Dari Kisah Nyata Juga Ada Novelnya

Dari segi visual, film ini berhasil menyajikan tampilan karakter Buck dan para anjing dengan baik tanpa mengganggu kelancaran alur cerita. 

Akan tetapi, ada sedikit masalah terkait tampilan Buck sebagai karakter utama dengan ukuran tubuh yang terasa tidak konsisten dalam beberapa adegan. Hal ini tampaknya disebabkan oleh tingkat kesulitan yang tinggi dalam adegan-adegan lari, berenang, dan sejumlah aksi lainnya yang dilakukan oleh Buck.

Di sisi lain, akting para aktor manusia dalam film ini patut diacungi jempol. Harisson Ford, seorang legenda dalam dunia perfilman, tampil luar biasa sebagai John Thornton. 

Meskipun sudah memasuki usia seniornya, Ford masih mampu memberikan penampilan yang memukau sebagai petualang uzur yang merasa kesepian. 

Kemampuan aktingnya dan karakter suaranya yang khas memberikan dimensi lebih pada narasi film ini, menjadikan penampilannya sangat mencolok. 

The Call Of The Wild Rilisan 2020

Ia mampu menghadirkan karakter John Thornton sebagai pribadi yang bijaksana dan penuh warna.

Jadi, meskipun ada sedikit masalah dalam tampilan karakter Buck, film ini berhasil menampilkan akting memukau dari Harisson Ford, yang merupakan salah satu aset terbesar dalam membawa kisah petualangan ini kepada penonton dengan penuh daya tarik.

Pengarahan seni, teknik penyuntingan, rancangan busana, dan riasan berhasil mendukung film ini dengan baik, dan tim efek visual dan efek khusus layak mendapat penghargaan atas upaya mereka dalam menciptakan karakter Buck dan hewan-hewan lainnya yang terlihat meyakinkan. 

Meskipun ada beberapa ruang untuk perbaikan, hasil akhirnya cukup mengesankan. The Call of The Wild, dalam esensinya, memenuhi ekspektasi sebagai film petualangan yang cocok dinikmati oleh penonton keluarga. 

Karakter Buck, anjing yang besar namun memiliki pesona yang mengagumkan, merupakan salah satu poin kuat film ini. 

Review Film The Call Of The Wild Kisah Petualangan Anjing Rumahan Di Alam Liar Kanada

Tingkah lucu dan menggemaskan Buck seringkali berhasil memunculkan tawa dan juga sentuhan emosional di beberapa momen dalam cerita. 

Hubungan akrab antara Buck dan karakter Thornton menjadikan film ini bukan hanya sekadar petualangan, tetapi juga kisah tentang persahabatan yang penuh kehangatan dan saling menghormati.

Sinopsis Singkat Review Film Drama The Call Of The Wild

Pada akhir abad ke-19, terdapat seekor anjing yang gagah, berbulu lebat, dan bermantap bernama Buck.

Buck hidup di daerah Santa Clara pedesaan California bersama pemiliknya, seorang penulis bernama Miller (diperankan oleh Bradley Whitford). 

Buck adalah anjing yang penuh semangat, cerdas, dan senantiasa ingin mencari petualangan.

The Call Of The Wild Rilisan 1923

Setiap harinya, Buck bersenang-senang berlarian dan mengeksplorasi sekitarnya dengan penuh gairah.

Suatu kali, ketika Buck  berkeliling di tengah ramainya kota kecil, seorang pria yang melihatnya mulai memikirkan peluang bisnis yang bisa diambil jika dia memiliki anjing seperti Buck.

Kemudian, Miller mengadakan pesta kecil di rumahnya untuk merayakan ulang tahunnya.

Berbagai hidangan lezat tersusun rapi di atas meja untuk para tamu. Semua tampak indah dan menggiurkan.

Namun, kegembiraan itu terganggu oleh ulah nakal Buck. Dia tanpa sengaja merusak hidangan dan meratakan segalanya di atas meja. 

Miller yang kesal dengan tingkah nakalnya menghukum Buck untuk tidur di luar rumah. Kejengkelan ini di rasakan Miller hampir tiap hari.

The Call Of The Wild Dari Novel Kisah Nyata Menjadi Film Drama

Tindakan ini bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh Buck, karena sebelumnya dia juga sering membuat ulah yang serupa.

Buck, dengan ekspresi bersalah, menerima hukumannya dan pergi tidur di luar. Miller dan Buck tanpa ada perasaan buruk akan ada kejadian ke esokan harinya.

Ketika malam tiba, seorang pria yang telah melihat Buck di siang harinya mengintainya. Dia berusaha memanggil Buck dari kejauhan dengan suara lembut.

Pria tersebut memegang makanan dan dengan sengaja melemparkannya ke dalam sebuah kotak besar, berharap Buck akan tergoda masuk ke dalam kotak tersebut.

Tanpa perlawanan, Buck dengan cepat mendekati kotak tersebut dan jatuh ke dalam perangkap yang telah disiapkan oleh pria tersebut.

Pria itu berhasil menangkap Buck tanpa kesulitan yang berarti. Sehingga terjadilah adegan penculikan anjing yang bernama Buck.

The Call Of The Wild By Jack London Edited By Daniel Dyer

Buck akan segera menjalani nasib yang berbeda. Setelah perjalanan yang melelahkan, dia tiba di sebuah tempat yang sangat berbeda.

Ketika pintu kandangnya terbuka, Buck melompat keluar, siap untuk mengeksplorasi tempat baru ini. Namun, begitu dia tiba di sana, dia segera menyadari bahwa situasinya berbeda.

Penjaga yang berdiri di dekatnya tampak tidak ramah. Dengan kasar, mereka menghampiri Buck dan menamparnya hingga jatuh.

Buck mencoba untuk melawan, tetapi dia segera menyadari bahwa dia dalam posisi yang tidak menguntungkan.

Meskipun begitu, semangatnya untuk melarikan diri tidak pernah pudar. Dengan usaha yang keras, dia berhasil melepaskan diri dari ikatan yang mengikat lehernya.

Film The Call Of The Wild 2020 Banyak Menggunakan CGI

Setelah berhasil membebaskan diri, Buck melompat ke atas, hanya untuk menemukan dirinya berada di atas kapal yang sedang berlayar melalui lautan es yang luas.

Kenyataan bahwa dia telah dibawa ke tempat yang jauh dari rumahnya membuatnya merasa semakin terisolasi.

Kapal berlayar hingga tiba di sebuah tempat yang diselimuti oleh salju putih. Ini adalah Yukon, sebuah tempat yang keras dan berbahaya, terutama bagi seorang anjing seperti Buck.

Di sini, dia akan belajar untuk bertahan dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang keras.

Buck diikat dengan tali dan ditarik oleh seseorang yang siap menjualnya. Semuanya terasa asing dan menakutkan bagi Buck.

Call Of The Wild Buck Sang Anjing Penarik Kereta Salju

Ketika mereka berjalan melalui tanah yang bersalju, Buck merasa kagum dengan keindahan dan ketenangan tempat ini.

Dia tiba-tiba merasa terbebas dan bersemangat. Dalam momen itulah, dia berhasil meloloskan diri dari tali yang mengikatnya, lari tanpa tujuan yang pasti.

Buck terus berlari hingga dia menabrak seorang lelaki tua. Kejadian inilah yang akan mengubah kehidupan Buck menjadi lebih baik.

Kejutan membuatnya sedikit canggung, tetapi lelaki tua itu dengan lembut mengingatkan Buck untuk hati-hati.

Harmonika tua itu terjatuh dari tangan sang lelaki tua, dan tanpa ragu, Buck dengan cermat mengambilnya dan mengembalikannya pada pemiliknya.

Buck Dalam Film The Call Of The Wild 2020 Menjadi Penarik Kereta Salju

Sang lelaki tua tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Buck atas kebaikannya. Namun, kebaikan sejenak itu terganggu ketika pemilik yang ingin menjual Buck segera menemukan mereka.

Dengan tegas, Buck diikat kembali dan dibawa ke penampungan anjing, tempat dia akan menunggu nasibnya sebagai hewan peliharaan baru.

Perjalanan Buck yang luar biasa belum berakhir. Ketika seorang tukang pos bernama Perrault (Omar Sy) melihat Buck, dia langsung tertarik padanya. Perrault memutuskan untuk menjadikan Buck sebagai bagian dari keluarganya yang baru.

Tidak butuh waktu lama bagi Buck untuk akrab dengan Perrault, dan mereka mulai menjalani petualangan bersama. Ketika mereka mencapai ketinggian yang lebih tinggi, mereka bertemu dengan Françoise (Cara Gee), kekasih Perrault yang juga seorang tukang pos yang ulung.

Mereka membentuk tim yang solid dan bersama-sama mengarungi petualangan menakjubkan di tanah salju Yukon. Buck merasa sangat bahagia mendapatkan keluarga barunya ini.

The Call Of The Wild Film Kombinasi Seru Antara CGI Dengan Nyata

Françoise terlihat kecewa karena Perrault hanya membawa satu ekor anjing sementara yang dia butuhkan adalah dua. 

Lelaki itu lantas berdalih tidak membutuhkan anjing lain, karena baginya Buck sudah cukup kuat, mengingat tubuh Buck memang lebih besar dibandingkan lainnya. 

Di sana, Buck ‘berkenalan’ dengan beberapa anjing penarik kereta pos, termasuk Spitz si pemimpin.

Sebelum pergi Buck mendapat petunjuk dari Perrault, bahwa dia hanya perlu mengikuti anjing-anjing yang lain melalui rute yang sudah ditetapkan. 

Setelahnya, tugas pertama Buck sebagai anjing penarik pun dimulai. Sebagai pemula, Buck tentu sangat canggung. Bukannya berlari, Buck justru jalan dan terseret-seret hingga menabrak anjing lain di sebelahnya.

Dia teralihkan oleh seekor kelinci yang duduk di atas batang pohon di pinggir jalan dan mengakibatkan rombongannya terguling. 

Sebagai pemilik, Perrault tidak memarahi Buck. Lelaki itu justru menyemangati si anjing. Tak lama rombongan anjing pun kembali berjalan dan Buck mulai terlihat terbiasa serta bisa mengikuti ritme. Sampai akhirnya Buck kelelahan.

Saat malam tiba, Buck yang kedinginan tidur di luar, mencoba masuk ke tenda, tapi kembali diusir oleh Françoise. 

Pada saat itu, Buck melihat seekor serigala bertubuh besar dengan mata yang menyala, tapi serigala itu tak lama hilang saat Buck memalingkan pandangan ke arah lain. 

Lalu apakah serigala yang dilihat Buck adalah nyata atau hanya ilusinya karena kedinginan? Bagaimana nasib Buck selanjutnya?

The Call Of The Wild Film Adaptasi Novel Legendaris Karya Jack London


Genre Dan Rating Film The Call Of The Wild 2020 !


Sutradara: Chris Sanders
Produser: Erwin Stoff, James Mangold
Penulis Skenario: Michael Green
Berdasarkan: The Call of the Wild oleh Jack London
Pemeran: Harrison Ford, Omar Sy, Dan Stevens, Karen Gillan, Bradley Whitford
Musik: John Powell
Sinematografi: Janusz Kamiński
Penyunting: William Hoy, David Heinz
Perusahaan Produksi: 20th Century Studios, 3 Arts Entertainment
Distributor: 20th Century Studios
Durasi: 100 menit
Negara: Amerika Serikat
Bahasa: Inggris
Genre: Adventure, Drama
Klasifikasi Usia: PG (SU)
Anggaran: USD 150 juta
Tanggal Rilis: 21 Februari 2020 (Indonesia & Amerika Serikat)

Rating (hingga 7 Maret 2020)

Rotten Tomatoes – Tomatometer: 61% (Fresh)
Rotten Tomatoes – Audience Score: 89% (Fresh)

Metacritic: 47/100
CinemaScore: A-
PostTrak: 4/5
IMDb: 6,9/10

Trailer dan Review Film Drama The Call of The Wild


Friday, October 27, 2023

LES 7 JOURS DU TALION | 7 Days Film Horor Thriller Kanada

7 Days merupakan Film besutan Sutradara Daniel Grou. LES 7 JOURS DU TALION atau 7 Days ini bergenre Film Revenge Thriller asal Kanada yang berbahasa Prancis.

Film Horor Kanada ini adalah hasil dari adaptasi novel karya Patrick Senécal berjudul Les Sept Jours du talion (2002). 

LES 7 JOURS DU TALION | 7 Days Film Horor Thriller Kanada

Patrick Senécal, seorang novelis Kanada terkenal dengan gaya penceritaan gelapnya, membawa kisahnya ke layar lebar melalui adaptasi novelnya dalam Film 7Days

Film ini menawarkan pengalaman intens dengan tema yang tak terlupakan. Cerita dalam film ini, meskipun sederhana, sangat efektif. 

Bruno Hamel adalah seorang dokter ahli bedah yang hidup bahagia bersama istri, Sylvie, dan putri tunggal mereka, Jasmine, yang akan segera merayakan ulang tahun kesembilannya. 

Bruno bekerja keras di rumah sakit, seringkali harus bekerja malam, sehingga waktu bermain dengan putrinya menjadi berharga.

Jasmin Dalam Film 7Days LES 7 JOURS DU TALION

7Days: Mengejar Keadilan dalam Kegelapan

Namun, dua minggu sebelum ulang tahun Jasmine, mimpi buruk orang tua mana pun menjadi kenyataan. 

Bruno bangun dengan kabar bahwa Jasmine tidak hadir di sekolah. Bruno dan Sylvie segera menelepon polisi untuk melaporkan kejadian tersebut.

Siang itu, Bruno bergabung dengan polisi untuk menyusuri rute biasa yang ditempuh oleh Jasmine ke sekolah. 

Mereka mencapai sebuah taman yang merupakan tempat bermain anak-anak, di mana Jasmine dan teman-temannya sering berkumpul. 

Namun, dalam waktu singkat setelah film dimulai, penonton harus bersiap untuk adegan paling menghancurkan dalam film ini.

Bruno menemukan jasad putrinya, tergeletak di dekat taman, dengan tanda-tanda yang sangat jelas bahwa Jasmine telah mengalami pemerkosaan dan pembunuhan yang sangat brutal. 

LES 7 JOURS DU TALION 7Days Film Horor Thriller Kanada Tahun 2010

Dengan temuan yang mengerikan ini, dimulailah perburuan gelap yang akan membawa penonton ke dalam kegelapan yang memilukan, saat Bruno berusaha untuk membalaskan dendam dan mencari keadilan bagi putrinya yang tak berdosa.

7Days adalah film yang jauh dari misteri detektif. Penonton tidak harus bersusah payah untuk mengungkap siapa pelaku kejahatan yang keji.

Beberapa hari setelah kepergian tragis Jasmine, polisi memberi kabar pada Bruno tentang penangkapan Anthony Lemaire, pria yang disebut sebagai pelaku pembunuhan dan pemerkosaan terhadap putri Bruno. 

Berbagai bukti yang kuat, terutama dari tes DNA, mengaitkan Lemaire dengan kejahatan mengerikan ini.

Bruno merasa hancur hatinya saat menyaksikan berita penangkapan tersebut di televisi, terutama ketika Lemaire tersenyum sinis ke arah kamera. 

Dalam kebingungannya, Bruno merasa bahwa hukuman yang akan dijatuhkan oleh pengadilan tidak akan sebanding dengan kejahatan yang telah terjadi. 

Maka, tanpa pengetahuan Sylvie, ia mulai merencanakan sesuatu yang mengerikan.

Dokter yang cerdas dan tekun, Bruno menyusun rencananya sendiri. Ia merasa perlu mengambil tindakan sendiri untuk menjalankan "keadilan" yang menurutnya pantas bagi Lemaire. 

7 Days: Menghadapi Pemutusan Moral

7 Days Judul Prancis Kanada LES 7 JOURS DU TALION

Bruno merencanakan penculikan Lemaire dan membawanya ke sebuah kabin terpencil di tepi danau. 

Rencananya adalah menyiksa Lemaire selama tujuh hari, hingga hari ulang tahun Jasmine tiba. 

Dengan latar belakang kedokteran, Bruno tahu betul bagaimana menjaga agar Lemaire tetap hidup selama penyiksaan ini dengan bantuan peralatan medis.

Bruno tidak mencoba menyembunyikan aksinya; sebaliknya, ia dengan sengaja membuat penculikan ini menjadi perhatian publik. 

Polisi segera menyadari bahwa Bruno adalah otak di balik penculikan ini, dan mereka semakin khawatir tentang konfrontasi antara seorang ayah yang penuh amarah dan seorang pemerkosa dan pembunuh anak yang kejam. 

Kedua pihak ini bersiap-siap untuk bentrokan moral yang tak terhindarkan. Lalu, apakah kira - kira yang akan terjadi ?

Karena film ini berbahasa Perancis dengan kisah aksi balas dendam lewat penyiksaan yang brutal, banyak orang menganggap 7 Days adalah bagian dari fenomena New French Extremity. 

Namun saya pribadi tidak begitu yakin dengan pendapat itu. Pertama, 7 Days bukanlah film torture porn / eksploitasi seperti kebanyakan film-film New French Extremity. 

Jasmine Bersama Ayah dan Ibunya Dalam Film 7Days LES 7 JOURS DU TALION

Kalau kalian berpikir bahwa 7 Days adalah film seperti Martyr (2008) dan semacamnya, ekspektasi kalian salah besar. 

Adegan-adegan penyiksaan yang tanpa basa-basi diperlihatkan dalam film ini memang cukup brutal. 

Tapi sebenarnya porsinya cukup kecil dalam keseluruhan film. Dan yang terpenting, meskipun berbahasa Perancis, 7 Days tetaplah film Kanada. 

Seperti kita tahu, sebagian wilayah Kanada memang berbahasa utama Perancis karena tanah Kanada, terutama provinsi Quebec tempat film ini dibuat, adalah tanah bekas koloni Perancis di masa lalu sebelum berbagi wilayah dengan Inggris.

Menurut saya, bagian yang paling mengganggu dari film ini justru bukan pada proses penyiksaannya, tetapi pada ide bahwa seseorang dewasa bisa melakukan hal keji pada seorang anak kecil. 

Apa yang lebih memilukan lagi adalah kenyataan bahwa pedophilia benar-benar ada di dunia nyata. 

Itulah mengapa adegan paling mengerikan dalam film ini menurut saya adalah saat Bruno Hamel menemukan jasad Jasmine tergeletak di hutan, dan bagaimana sutradara Daniel Grou menggambarkan jasad anak berumur 8 tahun dengan sangat jelas dan nyata. 

7 Days Film Horor Thriller Asal Kanada Tentang Pembalasan Dendam Sang Ayah

Ia memperlihatkan semuanya pada penonton dengan terang-terangan, dari mulai tangan Jasmine yang terikat tali, bercak darah pada rok dan paha jasad Jasmine, celana dalam pada pergelangan kakinya, hingga tatapan kosong pada wajah Jasmine yang sudah membiru, dengan matanya yang masih sedikit terbuka. 

Adegan ini saja sudah menjadikan 7 Days sebagai tontonan yang sulit, apalagi kalau penontonnya memiliki seorang anak perempuan yang masih kecil. 

Tapi mungkin di situ jugalah kekuatan film ini, karena penonton akan dengan mudah merasakan simpati dan keberpihakan yang sangat besar pada karakter Bruno, dan bisa memaklumi semua kekejaman yang kemudian ia lakukan pada pemerkosa anaknya. 

Kita semua bisa merasakan perasaan bersalah, amarah, kesedihan, duka, penyesalan, dan keputusasaan yang dialami oleh Bruno Hamel. 

Di sinilah terasa ada sedikit sisi realitas yang terselip dalam kisah 7 Days yang kemudian membombardir para penonton dengan banyak pertanyaan soal moral dan naluri manusia. 

Jasmine Dalam Film 7Days LES 7 JOURS DU TALION

Siapa yang tidak ingin membalas dendam atas pemerkosaan dan pembunuhan anak mereka ? 

Siapa yang tidak ingin membuat pelakunya sangat menderita? Dan apakah kurungan penjara adalah hukuman yang setimpal atas kejahatan seperti ini?

Mungkin inilah yang membedakan 7 Days dengan film-film revenge / torture pada umumnya, karena kisah ini melibatkan banyak sisi emosional dan konflik batin bagi para penontonnya. 

Film ini juga seakan menggabungkan tiga genre yang berbeda, dari mulai kisah drama yang menyoroti hubungan Bruno dan istrinya di masa berkabung, kisah thriller kriminal yang berfokus pada perburuan polisi terhadap Bruno, dan film horror ekstrim pada adegan-adegan penyiksaannya. 

Sutradara Daniel Grou melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk membawa penontonnya ikut terbawa dengan jiwa seorang ayah waras yang kemudian menjadi gila. 

Pada akhirnya, film yang brutal, kuat, sekaligus menyentuh ini ditutup dengan tanpa adanya perasaan lega bagi siapapun.


Review Film Horor Thriller 7 Days Asal Kanada | LES 7 JOURS DU TALION

Wednesday, October 25, 2023

The Void Film Horor Kanada Rilisan Tahun 2016

Setelah sedikit tergoda untuk membahas penggambaran neraka yang tak terlupakan dalam film Hellbound: Hellraiser II (1988) dalam ulasan film minggu lalu, muncul ide menarik di benak saya: mengapa tidak menjalani sebulan penuh menulis ulasan tentang film-film yang menampilkan pandangan unik tentang alam neraka?

Kemungkinan ini menjadi sesuatu yang sangat menarik, sebab visi tentang alam neraka dapat sangat beragam, mulai dari yang paling konvensional hingga yang paling imajinatif. 

The Void Film Horor Kanada Rilisan Tahun 2016

Jelajah Neraka: The Void dan Kecemerlangan Visual

Oleh karena itu, pada bulan November ini, saya memutuskan untuk mencoba eksplorasi ini dan saya akan memulainya dengan film berjudul "The Void."

"The Void" adalah sebuah film horor yang memikat karena mampu menggabungkan beberapa elemen sekaligus, seperti horor kosmik, makhluk mengerikan, ilmuwan gila, okultisme, dan horor tubuh. 

Film ini dikarang dan disutradarai oleh duo talenta asal Kanada, yakni Steven Kostanski dan Jeremy Gillespie.

Sebelumnya, Kostanski dan Gillespie merupakan bagian dari Astron-6 Collective, sebuah rumah produksi yang terkenal karena sering menghasilkan film-film independen bergaya era 80-an, dengan anggaran rendah, dan sering menggabungkan elemen horor dan komedi, seperti "Manborg" (2011) dan "Father’s Day" (2011).

Sebelum menjadi kolaborator dalam menyutradarai "The Void," Kostanski dan Gillespie sebenarnya memiliki pengalaman di industri Hollywood. 

Steven Kostanski adalah seorang ahli dalam bidang tata rias dan efek khusus yang pernah terlibat dalam produksi berbagai film, seperti "The Haunting in Connecticut" (2009), "Wrong Turn 4" (2011), "Resident Evil: Retribution" (2012), "Silent Hill: Revelation" (2012), hingga serial TV "Hannibal" (2013-2014) dan adaptasi "IT" (2017).

Sementara itu, Jeremy Gillespie lebih sering bekerja dalam bidang seni dan desain grafis, dengan pengalaman di produksi film-film besar, seperti "Pacific Rim" (2013), "Hannibal" (2013-2014), hingga remake "RoboCop" (2014). Oleh karena itu, keduanya sudah sangat akrab dengan desain, tata rias, dan efek khusus.

Dalam film "The Void," Kostanski dan Gillespie mengekspresikan kemampuan seni mereka dengan sangat memuaskan. 

Sementara film-film sebelumnya dari duo ini biasanya menyelipkan unsur komedi, "The Void" sama sekali tidak mempergunakan elemen tersebut. 

Sebagai gantinya, film ini adalah pameran kecemerlangan visual yang penuh dengan ketegangan, membuatnya menjadi sebuah pengalaman horor yang luar biasa.

The Void Film Horor Kanada Sutradara Steven Kostanski Dan Jeremy Gillespie

Terperangkap Dalam Kengerian: The Void

Kisah "The Void" dimulai dengan seorang deputi pedesaan yang menjalani patroli malam, Daniel Carter, yang menemukan seorang pria muda yang tampak terluka, bernama James, terhuyung-huyung keluar dari hutan. Tanpa ragu, Daniel membawa James ke klinik terdekat yang ia ketahui.

Klinik tersebut sebenarnya sudah tidak sepenuhnya berfungsi, bagian dari gedungnya terbakar dalam insiden sebelumnya, dan proses pemindahan ke lokasi baru tengah berlangsung. 

Namun, dalam situasi darurat, membawa James ke rumah sakit di kota yang jauh adalah pilihan yang tidak mungkin. 

Saat itu, klinik ini cukup sepi, terutama di tengah malam, dengan hanya dua perawat, Allison dan Beverly, serta seorang siswi keperawatan bernama Kim dan seorang dokter bernama Dr. Powell yang bertugas.

Di sana juga terdapat satu pasien laki-laki yang sedang dirawat inap, serta seorang remaja perempuan hamil yang didampingi oleh kakeknya di ruang tunggu. 

Hubungan yang tegang antara perawat Allison dan Daniel, suaminya, tampak jelas, terutama setelah mereka baru saja kehilangan anak mereka yang gugur dalam kandungan Allison.

Review Film The Void Rilisan Tahun 2016

Ketika James tiba di klinik, ia menjadi sangat gelisah dan histeris, hingga akhirnya Dr. Powell harus memberikannya obat bius untuk menenangkannya. 

Itulah saat ketegangan dalam "The Void" dimulai, misteri tumbuh, dan suasana menjadi mencekam. 

Beverly tiba-tiba tampak seperti tengah digerakkan oleh sesuatu yang tak kasat mata dan membunuh pasien yang dirawat inap dengan kejam, menusuk matanya dengan gunting dan menguliti wajahnya sendiri. 

Daniel yang menyaksikan aksi mengerikan Beverly, menembaknya ketika dia mencoba menyerangnya. 

Shock, Daniel pingsan, dan selama kesadarannya terganggu, ia melihat gambar-gambar aneh yang sulit dimengerti.

Ketika dia akhirnya sadar, seorang polisi negara bagian telah tiba di klinik untuk mencari James, yang diduga terlibat dalam pembantaian kejam di sebuah rumah di hutan. 

The Void Bloody Halloween Film Horor Kanada 2016

Tidak hanya polisi yang mencari James, dua individu bersenjata juga datang untuk menghentikannya. 

Namun, ketika mereka tiba di klinik, mereka menemukan monster mengerikan yang diduga sebagai hasil transformasi dari tubuh Beverly.

Situasinya semakin rumit ketika mereka menyadari bahwa klinik mereka dikelilingi oleh kelompok orang berjubah putih dengan simbol segitiga di kerudung mereka. 

Kelompok ini jelas merupakan bagian dari sekte tertentu, dan tujuannya bukan menyerang, melainkan menahan orang-orang yang terjebak di dalam klinik. Teror baru saja dimulai, dan tanpa mereka sadari, mereka telah memasuki alam yang sangat berbeda.

Dari sinilah, "The Void" mulai mempertunjukkan adegan-adegan yang penuh dengan horor, dengan darah, lendir, mahluk mengerikan, tentakel yang mengerikan, dan misteri yang perlahan mulai terungkap satu per satu.

Teror Klasik dalam Balutan Modern: Eksplorasi The Void

Sebuah film yang menyajikan sekte pemuja kematian tersembunyi di dalam hutan, ilmuwan yang hampir gila, monster dengan tentakel melimpah, lokasi yang sempit dan dikelilingi oleh kekuatan misterius yang tak masuk akal, serta elemen gore yang melimpah dengan lendir. 

Semua itu ditambah dengan plot lintas dimensi yang tak terduga. Film ini sungguh "kaya rasa" !

The Void Film Horor Kanada Tentang Sekte Aliran Sesat

Bayangkan desain monster yang mengingatkan pada "The Thing" (1982) dan permainan video "Dead Space," dengan atmosfer dan estetika yang angker seperti yang kita temui di "Silent Hill" (2006). 

Campurkan dengan elemen-elemen aneh dan lintas dimensi yang kita jumpai dalam "From Beyond" (1986) dan "Phantasm" (1979). Semua itu diberi sentuhan kuat ala H.P. Lovecraft. 

Hasilnya adalah "The Void" – sebuah film yang mencekam, menakutkan, aneh, dengan sentuhan klasik creature feature era 80-an.

Film ini memang membawa kita dalam suasana nostalgia film horor monster klasik, tetapi dengan sentuhan modern yang unik. Namun, yang patut diapresiasi adalah bagaimana film ini tidak berusaha dengan keras untuk terlihat retro. 

Jangan harap menemukan nuansa ala "Stranger Things" di sini, karena "The Void" adalah sebuah film serius yang mengingatkan pada sensasi teror dalam sinema monster era 80-an, seperti yang kita rasakan dalam film "The Deadly Spawn" (1983), "The Fly" (1986), "The Blob" (1988), dan lain sebagainya. 

Semua itu disajikan tanpa bumbu-bumbu komedi romantis dan drama remaja yang seringkali mengiringi film horor modern.

Saya pribadi sangat terkesan dengan "The Void." Jika Anda telah membaca beberapa ulasan saya sebelumnya, Anda pasti tahu bahwa saya adalah penggemar berat efek praktis, yang mencakup efek khusus tradisional dengan penggunaan riasan prosetik dan boneka animatron, daripada teknologi CGI. 

Menonton film horor modern yang mengutamakan efek praktis adalah pengalaman yang menyegarkan. 

The Void Mimpi Buruk Daripada Neraka Di Dunia

Apalagi jika film tersebut berisi monster-monster "what-the-fuck" yang menjijikkan dan menyeramkan, sekaligus sangat mengesankan, yang semuanya dibuat secara tradisional. 

Penggunaan efek khusus tradisional dalam film apapun memberikan sentuhan realisme dan organik pada monster dan efek gore yang ditampilkan.

Sebagai pencinta cerita horor ala Lovecraft, saya selalu terpesona oleh tema-tema khasnya yang mencakup horor kosmik, dimensi lain yang misterius, alam yang tak terjangkau dengan penghuni kuno dari masa sebelum alam semesta kita, serta ilmuwan gila yang terobsesi dengan misteri kematian. The Void menggabungkan semua elemen ini dengan sempurna.

The Void adalah sebuah film yang benar-benar mencapai puncak horor ala Lovecraft, memainkan tema-tema tersebut dengan keaslian yang jarang kita temui. 

Film ini bukanlah adaptasi langsung dari karya-karya H.P. Lovecraft seperti banyak film horor Lovecraftian lainnya. 

Ini adalah sebuah kisah orisinal yang menggabungkan elemen-elemen Lovecraftian dengan indah.

Hasilnya sangat memuaskan. Film ini adalah sebuah penghormatan bagi mitos Lovecraft yang dikerjakan dengan sangat baik, bahkan dengan anggaran yang terbatas. 

Bahkan sebelum produksi dimulai, duo Steven Kostanski dan Jeremy Gillespie harus mengumpulkan dana melalui kampanye crowdfunding di Indiegogo untuk mendanai pembuatan semua monster dalam The Void, dan mereka berhasil !

The Void Horor Movie Tentang Sekte Rilisan 2016

Namun, pengaruh Lovecraft bukan satu-satunya yang terasa kuat dalam film ini. Ada juga pengaruh Clive Barker yang mencolok. 

Salah satu pengaruh yang paling nyata adalah cara film ini menggambarkan dimensi lain yang mungkin merupakan representasi neraka. 

Pemandangan dan atmosfernya sangat imajinatif dan menakutkan. Kita disuguhkan pemandangan alam yang ganjil, luas, dan kosong, dengan bangunan-bangunan yang sama ganjilnya. 

Semuanya terjadi di bawah langit kelabu, menciptakan atmosfer yang membuat kita merasa tidak nyaman dan terisolasi.

Saat saya menonton film ini, gambaran tentang neraka versi Clive Barker terlintas dalam pikiran saya, terutama versi neraka yang muncul dalam sekuel Hellraiser, Hellbound. 

Atmosfer alam lain yang digambarkan dalam "The Void" juga mengingatkan saya pada "The Great and Secret Show," sebuah novel karya Barker yang pernah saya baca. Semuanya menghadirkan gambaran neraka yang berbeda, tanpa harus mengandalkan lautan api yang klasik.

Horor Modern dengan Sentuhan Klasik: 'The Void'

Saat membahas film The Void, tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa dialog dalam film ini terasa agak kurang baik. 

Namun, menurut pendapat saya, kelemahan ini tidak menghancurkan keseluruhan pengalaman menonton. 

Monster Dalam Film The Void

Jika kita melihat film-film horor box office terkenal, kita sering menemui dialog yang jauh lebih buruk. Secara keseluruhan, The Void adalah film yang layak dinikmati.

Penting untuk diingat bahwa ketika kita mengatakan "layak," itu bukan dalam arti film ini akan memenangkan penghargaan Oscar. 

Namun, film ini berhasil dalam mencapai apa yang ingin disampaikan kepada penonton. Sensasi menegangkannya pun dapat banget feelnya.

The Void membawa sesuatu yang segar ke dalam industri film horor global yang kadang-kadang terasa stagnan karena banyaknya remake dan reboot, serta dominasi film-film horor psikologis dalam satu dekade terakhir.

Setelah menonton The Void beberapa kali, saya merasa bahwa film ini mungkin ditujukan lebih kepada penonton yang sudah terlalu familiar dengan tropes dalam film horor daripada penonton umum. 

Jika Anda merasa bosan dengan film-film horor modern yang terasa klise dan menyukai sensasi dari film creature-feature era sebelum efek CGI dan jump-scare menjadi trend, maka film ini patut Anda tonton.

Selain itu, bagi para penggemar H.P. Lovecraft, The Void akan menjadi tontonan yang sangat menarik. 

Saya pribadi sangat berharap agar lebih banyak film horor sejenis The Void diproduksi di masa depan, terutama di Indonesia. 

Bayangkan jika kita dapat menyaksikan perspektif lokal terhadap dunia Lovecraftian, menggali kengerian khas daerah kita. 

Dengan begitu, kita dapat menyajikan tema yang lebih beragam daripada hanya cerita hantu dan kutukan semata.



Blood Quantum Film Horor Kanada Sutradara Almarhum Jeff Barnaby

Film Horor karya sutradara Almarhum Jeff Barnaby dengan judul Blood Quantum yang rilisnya tahun 2019 sebenarnya menurut kami lebih seperti film thriller yang menegangkan dan seru banget.

Saat George Romero mengukir namanya sebagai pionir genre horor zombie modern, dia tidak hanya menciptakan kisah-kisah zombie yang menyeramkan, tetapi juga menghadirkan lapisan pesan sosial yang mendalam dalam karya-karyanya.

Blood Quantum Survival After Pandemic

Contoh yang sangat mencolok adalah pemikiran tentang ras yang diungkapkan dalam "Night of the Living Dead" pada tahun 1968, dan kritik terhadap konsumerisme yang tersembunyi dalam "Dawn of the Dead" pada tahun 1978.

Dalam konteks yang sama, "Blood Quantum" adalah salah satu film zombie yang meneruskan warisan berharga George Romero dengan cerdik. Film ini menggunakan metafora kiamat zombie sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan mendalam.

Film ini adalah karya dari sutradara berbakat keturunan Indian suku Miꞌkmaq, yaitu Jeff Barnaby. 

Lewat film ini, Barnaby menciptakan gambaran suram tentang dunia distopia yang harus dihadapi oleh komunitas Miꞌkmaq setelah serangan zombie. 

Yang seakan-akan menjadi deja vu mengenai pengalaman yang dihadapi oleh penduduk asli Kanada berabad-abad yang lalu pada masa kolonialisasi bangsa Eropa. 

Blood Quantum Film Horor Kanada Sutradara Almarhum Jeff Barnaby

Film ini mencerminkan dampak sosial yang masih harus dihadapi oleh komunitas asli hingga hari ini.

Saat ini, genre horor zombie semakin terlupakan dan hilang pesonanya. Namun, "Blood Quantum" dengan segala kepiawaian dan ketajaman berhasil membuktikan bahwa genre ini masih memiliki ruang untuk berbicara dan memberikan pesan yang kuat.

Dalam pengaturan tahun 1981, "Blood Quantum" mengangkat latar belakang reservasi suku Indian Miꞌkmaq yang dikenal sebagai Red Crow Indian Reservation, berlokasi dekat kota Quebec. 

Komunitas keturunan Indian ini dengan sengaja diisolasi dari populasi kulit putih yang mendominasi kota besar di seberang sungai, dengan satu-satunya akses yang menghubungkan mereka, yaitu sebuah jembatan besar.

Film ini dimulai pada saat awal wabah zombie yang mengguncang dunia. Semuanya berawal ketika seorang sesepuh suku Miꞌkmaq yang dihormati, Gisugu, menemukan bahwa ikan salmon yang dia tangkap tiba-tiba kembali hidup setelah mati. 

Blood Quantum Lebih Layak Di Sebut Film Genre Thriller Daripada Horor

Peristiwa aneh ini segera melibatkan putranya, Traylor, yang menjabat sebagai sherif di Red Crow Reservation.

Kita juga diperkenalkan pada karakter-karakter utama lainnya dalam "Blood Quantum": Joss, mantan istri Traylor, beserta putra mereka yang bernama Joseph, serta Lysol, anak pertama Traylor dari pernikahan sebelumnya.

Tidak butuh waktu lama sebelum wabah dan serangan zombie meluas di wilayah reservasi, kota di seberang sungai yang mayoritas dihuni oleh populasi kulit putih, dan bahkan mungkin di seluruh dunia.

Enam bulan berlalu, dan Red Crow Reservation telah berubah menjadi benteng pertahanan utama bagi para survivor di tengah kengerian wabah zombie. 

Mayoritas dari mereka yang masih bertahan hidup adalah keturunan Miꞌkmaq, karena sepertinya keturunan Indian ini memiliki kekebalan alami terhadap virus mengerikan yang telah menghantui dunia.

Blood Quantum Film Horor Kanada Sutradara Almarhum Jeff Barnaby

Mereka dapat terluka atau bahkan tewas dalam serangan zombie, tetapi anehnya mereka tidak akan terinfeksi dan berubah menjadi zombie jika mereka meninggal. 

Sebaliknya, manusia non-Indian sangat rentan terinfeksi dan menjadi pembawa virus yang mematikan.

Pilihan lokasi Red Crow Reservation menjadi tempat perlindungan menjadi sangat tepat di tengah kekacauan semacam ini. Lokasinya yang terpencil dari kota-kota besar yang mayoritas dihuni oleh populasi kulit putih membantu mencegah penyebaran virus yang lebih luas.

Sebelum wabah zombie melanda, komunitas Indian selalu menerima perlakuan yang tidak adil dan diskriminatif dari warga kulit putih di kota seberang. 

Salah satu contohnya adalah saat Traylor mencatat bahwa ambulans tidak akan pernah datang jika warga Miꞌkmaq membutuhkannya. 

Namun, situasinya telah berubah drastis, dan reservasi ini kini menjadi satu-satunya tempat perlindungan yang dicari oleh para pengungsi, termasuk mereka yang tidak berasal dari keturunan Indian.

Sekumpulan Zombie Di Film Blood Quantum Rilisan Tahun 2019

Para anggota komunitas Miꞌkmaq sekarang berperan sebagai pembuat peraturan dan penjaga dalam shelter ini, melindungi para penghuni dari ancaman zombie. Ini adalah perubahan besar dalam dinamika sosial yang ada sebelum wabah.

Untuk meminimalkan risiko penyebaran virus, kegiatan pengumpulan sumber daya (scavenging) menjadi tugas yang hanya boleh dilakukan oleh mereka yang berasal dari keturunan Indian. 

Seperti banyak film zombie modern lainnya, konflik utama dalam Blood Quantum bukan berasal dari pertempuran melawan zombie, melainkan pertentangan antar manusia yang berbagi tempat perlindungan ini.

Sebagai pemimpin suku Miꞌkmaq, Traylor dan para pengikutnya tidak memandang warna kulit mereka yang berlindung di sana. 

Semua orang diberikan perlindungan, asalkan mereka tidak terinfeksi. Namun, Lysol memiliki pandangan yang berbeda. 

Baginya, melindungi warga kulit putih bisa menjadi ancaman bagi seluruh komunitas. 

Review Film Kanada Blood Quantum Tentang Perjuangan Melawan Zombie

Cukup satu warga non-Indian yang terinfeksi dan berubah menjadi zombie dapat mengakibatkan kehancuran shelter ini.

Konflik semakin memanas, terutama antara Lysol dan saudara tirinya, Joseph, karena kekasih Joseph yang sedang hamil ternyata adalah seorang warga kulit putih. 

Dalam diam, terbentuk dua faksi dalam komunitas Indian ini. Konflik internal mengancam keberlangsungan shelter ini, dan kekacauan benar-benar berasal dari dalam pertahanan tersebut.

"Blood Quantum" mungkin memiliki semua elemen yang diharapkan dalam film horor apokaliptik, khususnya dalam kategori zombie. 

Namun, film ini jauh dari film zombie biasa, karena pada hakikatnya, sutradara Jeff Barnaby menggunakan wabah zombie sebagai metafora untuk merefleksikan sejarah pahit dan kenyataan yang diwarisi oleh kaumnya secara turun-temurun.

Film ini memperlihatkan cerminan kolonialisme bangsa Eropa yang telah membawa wabah cacar ke tanah Kanada dan mengambil alih kekuasaan sepenuhnya hingga saat ini. 

Sementara itu, film ini juga menggarisbawahi isu-isu rasial dan diskriminasi yang telah lama dihadapi oleh masyarakat pribumi di tanah mereka sendiri. 

Sebenarnya, istilah "Indian" bukanlah istilah yang akurat, karena merupakan warisan kolonial Eropa yang awalnya salah mengidentifikasi penduduk asli benua Amerika sebagai orang India. 

Istilah yang lebih tepat adalah "Aboriginal" atau "Indigenous people." Di Amerika Serikat, mereka dikenal sebagai "Native Americans," sementara di Kanada (lokasi film "Blood Quantum"), mereka dikenal sebagai "First Nation People."

Sejarah masyarakat penduduk asli di Amerika dan Kanada telah dicoraki oleh pemisahan dan relokasi paksa yang diterapkan oleh pemerintah kolonial kulit putih, dan dampaknya masih terasa hingga hari ini. 

Reservasi seperti Red Crow yang digambarkan dalam "Blood Quantum" adalah contoh nyata dari pemisahan sosial yang semakin hari semakin menghancurkan peran dan budaya penduduk asli, sebuah isu yang dinyanyikan secara lantang oleh Rage Against The Machine dalam lagu "Take the Power Back."

Bahkan judul film, "Blood Quantum," merujuk pada sistem pengukuran "darah Indian" dalam konteks federal di Amerika dan Kanada, di mana seseorang akan memiliki tingkat "darah Indian" yang tercatat dan bersertifikat. 

Film Zombie Gagasan Berbeda Dalam Film Blood Quantum Rilisan Tahun 2019

Inilah mengapa pesan tersirat dalam film ini mungkin akan lebih relevan bagi penonton di Kanada dan Amerika Serikat, terutama mereka yang memiliki darah keturunan asli.

Melalui "Blood Quantum," Jeff Barnaby mengirimkan pesan-pesan yang berani untuk komunitasnya, dan ia melakukannya dengan cara yang sangat halus. 

Saya juga menghargai bagaimana film ini menggambarkan penduduk asli Amerika, yang seringkali digambarkan sebagai masyarakat kelas dua dalam banyak film horor. 

Stereotip yang seringkali terkait dengan mereka dalam film-film lain, seperti praktik ritual aneh, dukun tua, ilmu hitam, dan voodoo, dengan karakter kulit putih sebagai pahlawan, semuanya ditegaskan ulang di dalam film horor. 

Tentu saja, terdapat elemen rasisme yang tak terhindarkan dalam penggambaran identitas tersebut dalam kultur horor.

Sebagai seorang pembuat film keturunan suku Miꞌkmaq, Jeff Barnaby memanfaatkan kesempatan langka ini untuk membuktikan bahwa komunitasnya tidak harus selalu diidentifikasi dengan stereotip negatif dalam film horor. 

Dengan "Blood Quantum," ia membuktikan bahwa cerita-cerita masyarakat pribumi dapat menjadi bagian integral dari dunia film horor yang inovatif.

Review Film Horor Zombie Asal Kanada Besutan Sutradara Almarhum Jeff Barnady !


Tuesday, October 24, 2023

Skinamarink Film Horor Viral Terseram Budget Mikro !

Film Horor Terbaru - Skinamarink sewaktu rilis di tahun 2022 yang di dahului oleh kebocoran melalui Social Media yang menjadi viral, meskipun begitu tetap sesuai jadwal untuk penayangan perdananya di Bioskop.

Film Horor Terbaru yang lebih dulu bocor dan viral di hampir seluruh Social Media ternama, ternyata karya Kuli Edward Ball awalnya memiliki jadwal penayangan di bioskop Amerika pada 23 Januari 2023.

Skinamarink Film Horor Viral Terseram Budget Mikro !

Mungkin saja berkat bocor terlebih dahulu dan menjadi viral di jagat maya, maka inilah yang membuat Skinamarink menjadi salah satu topik perbincangan diantara penikmat film dianggap sebagai film horor terseram tahun 2023 ini.

Meskipun Skinamarink digarap dengan budget mikro yang artinya hanya keluar duit sangat sedikit untuk selama produksi, sangatlah sukses berikan nuansa seram penuh ketegangan dan dapat banyak pujian pecinta film.

Nuansa seramnya sudah muncul sedari awal tayang film Skinamarink dengan adegan dua anak yang terbangun di tengah malam untuk mencari ayahnya tak ada dalam kamar.

Tentu saja naluri alami seorang anak yang mendapati ayahnya tidak ada diranjang yang tadinya temani tidur, pastinya akan bangun dan mencarinya.

Ketika dua anak yang diperankan Lucas Paul dan Dali Rose Tetreault sebagai Kevin dan Kaylee kemudian mendapati rupanya seluruh pintu dan jendela rumahnya menghilang. 

Lucas Paul dan Dali Rose Tetreault sebagai Kevin dan Kaylee

Kevin dan Kaylee terkurung di dalam rumah tanpa bisa berbuat apapun yang tentu saja dengan suasana sangat mencekam penuh ketegangan. 

Keputusan serempak dan dadakan pun di pilih oleh ke dua anak tersebut yaitu untuk menanti ayahnya yang diperankan oleh ayah kandung Lucas Paul, yaitu Ross Paul ataupun orang dewasa lainnya datang menjemput.

Ketika kedua anak itu menanti ada yang datang menjemput, tersadar rupanya tidaklah sendirian akibat adanya suara seperti anak kecil memanggil mereka.

Sang ibu diperankan oleh aktris Jaime Hill yang juga turut menjadi juru video atau pengambil gambarnya secara digital.

Selengkapnya dapat kamu saksikan kelanjutannya dalam video dibawah ini yang termasuk salah satu Film Horor asal Kanada terseram di tahun 2022 dan awal 2023.


Tidak banyak yang mengetahui bahwa Film ini merupakan dedikasi untuk mengenang Joshua Bookhalter, teman baik Kyle Edward Ball serta seorang asisten sutradara dan juru rekam audio film ini yang meninggal tak lama setelah syuting dimulai.

"Jangan Biarkan Anak Balita Anda Sendirian Di Kamar Tanpa Ada Orang Dewasa Di Sisi"

Monday, October 23, 2023

Review Film Kisah Nyata Kecelakaan Pesawat Uruguayan Air Force Flight 571

Alive film rilisan tahun 1993 tepatnya sebelum kids jaman now eksis ini yang di angkat dari kisah nyata berdasarkan tragedi kecelakaan pesawat terbang Uruguayan Air Force Flight 571 jatuh di Pegunungan Andes pada tanggal 13 Oktober 1972.

Tim Rugby Uruguay Lulusan Universitas Stella Maris Kecelakaan Pesawat Uruguayan Air Force Flight 571
Foto Asli Tim Rugby, Atas (Kiri ke Kanan): Nanda Parrado, Chad Willet, David Kriegel, Vincent Spano, Jason Gaffney, Kevin Breznahan, John Newton, Ethan Hawke. Bawah (kiri ke kanan): David Cubitt, Jake Carpenter, Michael Woolson, Silvio Polio, Josh Lucas, Josh Hamilton)

Film Alive 1993 dengan pemeran - pemeran ternama yaitu Ethan Hawke, Vincent Spano, dan Josh Hamilton, sehingga membuat kami benar - benar terhanyut larut dalam ceritanya bisa bikin kita benar - benar lupa dengan sekitar ataupun bahkan menangis sesegukan.

Gimana gak bikin kita yang menonton jadi menangis sesegukan, ini film tentang kisah nyata pesawat Uruguayan Air Force Flight 571 mengangkut tim rugby Uruguay beserta teman - teman dan keluarganya yang merupakan lulusan dari Universitas Stella Maris. 

Tidaklah sedikit penumpang dalam pesawat yang kecelakaan tersebut, totalnya penumpang yaitu 45 orang dan hanya 16 orang diantara mereka yang selamat dapat bertahan hidup.

Review Film Alive, Diangkat Dari Kisah Nyata Para Penyintas Mendadak Jadi Kanibal !

Korban Kecelakaan Pesawat Uruguayan Air Force Flight 571

Mayoritasnya dari anggota tim Rugby Uruguay dan puluhan korban pesawat tersebut meninggal ditempat akibat kecelakaan.

Sementara mereka yang selamat mencoba bertahan dalam kondisi suhu amat sangat dingin dengan makanan yang tersisa sangat terbatas.

Maka mode bertahan hidup harus di aktifkan sambil menunggu tim penyelamat datang yang seharusnya tiba dengan gesit, malah lama banget.

Tidak seperti dalam film pada umumnya, semua orang adalah pemeran utama dalam film Alive yang menunjukkan usaha manusia menaklukkan alam agar bisa menyelamatkan dirinya.

Juga menunjukkan bagaimana manusia sendiri sebenarnya hanya secuil debu di alam ini. Bagaimana dalam penderitaan terhebat di alam luas itu, seorang atheis fanatik sekalipun bisa berubah dan mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.

Review Film Alive 1993 Dari Kisah Nyata Kecelakaan Pesawat

Orang-orang yang tidak pernah berdoa akan menjadi berbalik dan berdoa dengan sepenuh hati dan bercucuran air mata, berharap agar mereka bisa selamat dari keganasan alam itu.

Beberapa korban yang selamat dari jatuhnya pesawat akhirnya meninggal akibat terlalu parahnya luka-luka. Tak sedikit pula yang meninggal karena kedinginan dan kelaparan diakibatkan kehabisan bahan makanan.

Hingga akhirnya para korban selamat yang tersisa memutuskan untuk memakan daging mayat kawannya yang telah meninggal hanya untuk bertahan hidup.

Memakan mayat dari kawan atau saudaranya itu harus dilakukan lantaran demi bertahan hidup yaa mereka yang selamat harus mencari alat pemancar sinyal atau radio untuk meminta bantuan. 

Meskipun demikian inilah yang jadi masalah, radio tersebut terletak di belahan pesawat jatuh entah dimana. 

Sepuluh minggu kemudian, hanya enam belas dari empat puluh lima orang penumpang yang ditemukan dalam keadaan hidup.

Review Film Alive Kisah Nyata Kecelakaan Pesawat Uruguayan Air Force Flight 571

Film Alive Diangkat Dari Kisah Nyata Yang Dibukukan !

Kisah ini dituliskan oleh salah seorang korban yang selamat, kemudian diproduksi dalam bentuk film pada tahun 1993. 

Alive disutradarai oleh Frank Marshall (Arachnophobia, Eight Below). Sementara naskahnya ditulis oleh John Patrick Shanley berdasarkan buku karya Piers Paul Read. 

Film ini dibintangi Ethan Hawke sebagai Nando Parrado, Vincent Spano sebagai Antonio Balbi dan Josh Hamilton sebagai Roberto Canessa.

Cerita berawal ketika pesawat itu terjatuh, penumpang yang selamat kemudian berusaha menolong penumpang lain yang terluka, meski ada beberapa penumpang yang sudah tewas. 

Mereka yang terluka kemudian mendapat perawatan seadanya semampu mereka, sementara yang tewas dikeluarkan dari badan pesawat dan dibaringkan di salju tebal di luar. 

Ada seorang penumpang selamata yang merupakan mahasiswa kedokteran, yang mengambil tugas untuk membantu pengobatan para korban yang terluka. 

Sementara yang lainnya membantu mengeluarkan korban-korban lain yang masih terjepit diantara kursi-kursi penumpang. 

Malam itu mereka bertahan di dalam pesawat karena ada badai salju hebat yang melanda pegunungan Andes. Dan badai salju itu pun menewaskan beberapa orang lagi malam itu.

Seluruh penumpang yang tertinggal kemudian membongkar barang-barang di dalam pesawat untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Mereka menemukan sebungkus biskuit, beberapa batang coklat, dan dua botol anggur.

Fernando bertindak sebagai pemimpin, dan memutuskan kalau mereka akan menghemat jatah makanan itu, sampai bantuan datang menyelamatkan mereka. Sehingga mereka hanya makan sepotong kecil coklat dan setengah tutup botol anggur untuk bertahan hidup.

Pada malam hari, mereka tidur di dalam badan pesawat yang sudah hancur. Menutupi jendela-jendelanya yang terbuka dengan kain-kain dan tumpukan tas untuk menahan hembusan angin yang dingin menusuk. 

Sambil berharap datangnya bala bantuan atau setidaknya melihat pesawat yang akan melintasi daerah itu.

Keesokan harinya, mereka melihat sebuah pesawat kecil terbang melintasi tempat itu. Mereka segera berkerumun keluar dan melambaikan tangan. 

Pesawat itu berputar-putar beberapa kali, dan Fernando yakin kalau pilot pesawat itu sudah melihat mereka, dan akan kembali untuk membawa bantuan. 

Mereka begitu bersuka cita. Dan dengan percaya diri mereka menghabiskan stok makanan mereka yang tersisa semuanya pada malam itu. Karena yakin kalau besok akan ada helikopter yang datang menjemput dan menyelamatkan mereka.

Tapi kenyataan berkata lain. Ternyata pesawat itu tidak melihat mereka dan karena itu tidak pernah kembali untuk menyelamatkan mereka. 

Maka penderitaan mereka pun semakin bertambah karena jatah makanan mereka sudah habis. Akhirnya beberapa orang memutuskan untuk mencari bagian ekor pesawat. 

Di sana ada aki yang bisa mereka pergunakan untuk menghidupkan kembali radio pesawat dan memanggil bantuan. Masalahnya, mereka tidak yakin dimana letak pasti dari bagian ekor pesawat yang patah itu. Dan mereka sama sekali buta dengan daerah pegunungan dengan salju setinggi perut itu.

Akhirnya diputuskan, bahwa tiga orang akan berangkat untuk mencari lokasi ekor pesawat itu dan membawa aki tersebut ke badan pesawat. Tapi ternyata perjalanan itu sangat berbahaya. 

Pada siang hari, Pegunungan Andes memang mendapat sinar matahari, sehingga mereka tidak terlalu merasa kedinginan. Tapi di malam hari, tanpa perlindungan yang memadai, manusia akan tewas karena membeku.

Tim yang berangkat ini tidak membawa perlengkapan apapun. Mereka hanya berbekal sweater tipis dan sepatu sneaker. Ditambah lagi perut kelaparan karena sudah dua hari tidak makan. Mereka terduduk membeku kedinginan ketika malam tiba. Untungnya mereka berhasil selamat hingga muncul matahari pagi. Karena itu mereka memutuskan untuk kembali saja, meskipun tanpa hasil.

Kegagalan tim pertama kemudian berusaha diperbaiki kembali. Mereka memutuskan untuk menunggu hingga cuaca benar-benar bersahabat dan tidak ada badai salju. 

Mereka akan menambah jumlah pakaian agar lebih hangat. Tapi masalah yang masih belum ada penyelesaiannya adalah: bagaimana mengatasi rasa lapar. 

Karena tanpa makanan, mereka akan menjadi lemah dan tewas karena kedinginan. Suhu di pegunungan tersebut sangatlah rendah dan berangin.

Akhirnya, memberikan sebuah usul yang sangat mengejutkan mereka. Bahwa untuk bertahan hidup di cuaca yang ekstrim itu, mereka harus makan banyak daging. Karena daging adalah sumber kalori yang paling besar. 

Berhubung yaa tidak ada hewan yang bisa diburu di sekitar itu, maka mereka harus memakan mayat-mayat korban yang terbaring di luar.

Pada awalnya, hampir semua menolak usul itu. Tapi perlahan-lahan, dengan memahami situasi yang mereka alami, akhirnya mereka menyadari kalau mereka tidak punya pilihan lain. 

Yang pertama kali mengiris daging dari mayat itu adalah Fernando dengan menggunakan pecahan kaca jendela pesawat. 

Adegan itu menunjukkan bagaimana dengan susah payah ia memasukkan potongan daging yang dicungkilnya dari bagian pinggang salah satu mayat itu ke dalam mulutnya. 

Berusaha mati-matian melawan rasa ingin muntah dan menelannya dengan bantuan segenggam salju yang dimasukkan dengan terburu-buru ke dalam mulutnya.

Setelah itu, barulah kawan-kawannya yang lain menirunya. Suhu yang membeku telah berfungsi sebagai lemari es raksasa. 

Mayat-mayat itu tidak membusuk tapi membeku seperti disimpan di dalam freezer dan tetap segar. Mereka berhasil bertahan hidup selama 70 hari di pegunungan es itu karena tetap memiliki tenaga dari memakan daging mayat.

Setelah masalah perut teratasi, mereka kemudian kembali mengirimkan regu yang baru untuk mencari ekor pesawat. 

Mereka memperlengkapi tim yang baru ini dengan pakaian tebal, sepatu bot dan sekantung daging manusia untuk penambah tenaga di perjalanan. 

Kali ini tim kedua berhasil menemukan letak ekor pesawat sekaligus menemukan aki yang mereka cari-cari. Tapi ternyata aki itu sangat berat sehingga mereka tidak mungkin membawanya turun kembali. Mereka kemudian memutuskan untuk membawa orang yang mengetahui cara memperbaiki radio ke tempat aki itu berada.

Malangnya, ternyata mereka tidak berhasil memperbaiki radio itu. Tapi mereka menemukan sejumlah kain berlapis penahan panas yang bisa dipergunakan sebagai kantung tidur. 

Mereka kemudian membawa kembali barang-barang yang bisa dipergunakan ke tempat mereka. Seperti baju-baju tambahan untuk penghangat. 

Sementara itu jumlah mereka semakin berkurang, karena setiap hari selalu ada yang tewas karena tidak tahan dengan suhu udara yang sangat dingin itu.

Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari sendiri bantuan, karena kalau tetap diam dan menunggu disana, mereka juga pasti akan tewas. 

Tim ketiga akhirnya berangkat lagi untuk mendaki. Kali ini dengan tujuan untuk mencari daerah pemukiman penduduk sejauh mereka bisa berjalan kaki. 

Dari sana mereka akan mencari bantuan untuk menjemput kawan-kawan mereka yang tersisa. Mereka kembali setelah memperlengkapi diri dengan jatah daging, kantung tidur yang bisa menahan panas dan sepatu yang lebih kuat karena dililit dengan tali.

Dari awal memang sudah bisa dipastikan kalau perjalanan ini tidak akan mudah. Mereka hanya berbekal keyakinan kalau Chile berada di arah Barat, tapi tidak tahu akan sejauh apa perjalanannya. 

Bahkan di tengah perjalanan pun mereka hampir tergelincir ke jurang. Ditunjukkan kalau cukup banyak hari yang terlewati ketika akhirnya mereka menemukan sebuah lembah. 

Puncak pegunungan es itu akhirnya terlalui juga. Dan mereka kembali dengan membawa bantuan helikopter untuk menjemput teman-temannya yang masih menunggu di pegunungan.

Akhir film yang mengharukan. Ketika semua orang yang sudah putus asa menunggu dalam diam di bangkai pesawat, mereka mendengar suara helikopter yang mendekat, kemudian buru-buru berlari ke luar untuk melihat. 

Lalu terlihatlah ketiga orang teman mereka yang dengan berani telah melintasi dan menaklukkan puncak gunung es itu dengan peralatan seadanya, melambaikan tangan dari atas helikopter. 

Semua tertawa sambil menangis dan melambaikan tangan.

Short Videos Review Singkat Film Alive Kisah Nyata Kecelakaan Pesawat Uruguayan Air Force Flight 571


Semoga seluruh Tim Rugby Uruguay Lulusan Universitas Stella Maris dan keluarga juga teman - temannya yang menjadi korban kecelakaan pesawat Uruguayan Air Force Flight 571 mendapat tempat terindah di sisi Yang Maha Esa.